Tekad Yang Kuat Mendatangkan Kemudahan

Pada tanggal 25 Februari 2023, narasumber kita Indriyani telah memaparkan materinya dengan judul Tekad Yang Kuat Mendatangkan Kemudahan. Mungkin banyak dari kita bertanya-tanya, siapa sih tokoh inspiratif yang dimaksud oleh kak Indri ini? Kenapa diberi judul itu? Nah, untuk menjawab pertanyaan kita semua bagaimana kalau kita langsung saja baca artikel di bawah ini.

Ust. Adi Hidayat Lc. MA. Lahir di Padeglang, Banten, tanggal 11 September 1984. Anak dari bapak Warso Supena, dan ibu Hj. Rajiah Akhyar. Dari 4 bersaudara dengan Ade Rahmat, Neng Inayatin, Ima Rakhmawati, dan Ita Haryat.

Beliau adalah ustadz muda penceramah kajian ajaran islam asal Indonesia. Ia mempunyai pusat kajian Islam bernama Quantum Akhyar Institute yang didirikan pada tahun 2013 dan Ust. Adi Hidayat official yang didirikan tiga tahun berikutnya. Ia juga aktif menulis dan telah memiliki beberapa karya dalam Bahasa Arab dan Indonesia. Ustadz Adi Hidayat aktif menjadi narasumber keagamaan dan berdakwah melalui kanal YouTube miliknya.

Ustadz Adi Hidayat memulai Pendidikan awal di TK Pertiwi tahun 1989. Kemudian menjautkan Pendidikan di SDN Karaton 3 Pandeglang sampai kelas 3, selanjutnya pindah ke SDN III Pandeglang hingga ia tamat SD. Sebenarnya Ustadz Adi Hidayat akan masuk ke sekolah unggulan SMP 1 Padeglang, Banten. Kemudian ust. Adi Hidayat pindah sekolah di Pondok Pesantren Madarasah Salfiyyah Sanusiyyah Padeglang di tahun 1997-2003. Ustadz Adi merupakan siswa yang cerdas, selalu mendapatkan prestasi yang luar biasa waktu sekolah dulu, ia juga menjadi penceramah cilik ketika wisuda santri . Setelah tamat dari Pondok Pesantren beliau melanjutkan kuliah sebanyak dua kali pertama di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (2003 – 2005), dan di S1 Kulliyah Dakwah Islamiyyah, Tripoli, Libya (2005 – 2009). Magister S2 Islamic Call Collage, Tripoli, Libya (2010 – 2014).

Di Libya, Adi Hidayat belajar intensif berbagai disiplin ilmu baik terkait dengan Al-Qur’an, hadis, fikih, usul fikih,  Tarikh, Lughah, dan selainnya. Kecintaannya pada Al-Qur’an dan Hadist menjadikan ia mengambil program khusus Lughah Arabiyyah wa Adabuha demi memahami kedalaman makna dua sumber syariat ini. Selain Pendidikan formal, dia juga ber tallaggi pada masyayikh bersanad baik di Libya maupun negara yang pernah dikunjunginya. Dia belajar Al-Qur’an pada Syaikh Dukkali Muhammad al-‘Alim (Mugri internasional), Syaikh Ali Al-Liibiy (Imam Libya untuk Eropa), Syaikh Ali Ahmar Nigeria (riwayat warsy), Syaikh Ali Tanzania (riwayat ad-Duri). Adi Hidayat juga belajar ilmu tajwid pada Syaikh Usamah (Libya).

Adapun di antara guru tafsir dia ialah Syaikh Tanthawi Jauhari (Grand Syaikh Al-Azhar) dan Dr. Bajigni (Libya) Ilmu Hadist dia pelajari dari Dr. Shiddiq Basyr Nashr (Libya).

Ustadz Adi Hidayat menikah dengan Shufairok atau dikenal dengan panggilan Mbak Iir, asli Lasem Rembang dan memiliki 3 orang anak. Anak pertama bernama Muhammad Hamil Quran, anak kedua bernama Amelia Habibatul Musthofa, anak ketiganya bernama Muhammad Abdullah Amali lahir pada  hari Rabu, 24 Ramadhan 1440 H/ 29 Mei 2019.

Gaya berdakwah Ust. Adi Hidayat memiliki sikap yang tegas ketegasan sikapnya berpengaruhi oleh penguasaanya yang luas terhadap detail-detail hukum Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Sensitif dalam berdakwah memiliki kelembutan dari dan sering menintikkan air mata, meresapi dan menghayati, terutama menceritakan kisah dan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Menyisipkan humor dalam dakwahnya kemampuan humornya membuat penonton tidak merasa cepat jenuh sehingga dapat mengikuti pengajian yang disampaikan dengan baik. Dakwah dengan retorika yang bagus Teknik membujuk dan mengajak secara persuasive dengan memanfaatkan gaya bicara, argument, dan emosi yang seimbang. Menggunakan sarana media papan tulis dengan menuliskan point-point penting sangat jelas agar mudah dipahami. Memanfaatkan media sosial dengan berbagai pengajian banyak di unggah di lama YouTube, Instagram, Facebook dan twitter sehingga dapar di akses dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Jika yang kita dengar adalah nasihat, maka jangan lihat siapa yang mengucapkan, tapi dengarlah apa yang di ucapkan. Namun jika menyangkut suatu pemikiran/pendapat, lihatlah dulu siapa yang mengucapkan, baru dengar apa yang di ucapkan”

(Ustadz Adi Hidayat)